Batu Bara ICE Newcastle Membeku di 141,75 di Tengah Perkembangan Dinamis di Timur Tengah

  • Batu Bara ICE Newcastle melanjutkan perilaku dari hari-hari sebelumnya.
  • Konflik AS dengan Iran masih berlanjut menuju akhir pekan.
  • Menuju kebijakan ekspor komoditas strategis satu penting di Indonesia.

Batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 141,75 yang belum bergerak sejauh ini. Batu bara ini dibuka di level yang sama dengan kemarin. Komoditas ini sudah menunjukkan kinerja yang serupa untuk empat hari perdagangan berturut-turut, yaitu tidak bergerak dari level pembukaannya, meskipun dibuka dengan gap atas atau bawah dari harga sebelumnya.

Meskipun tidak bergerak dari level pembukaan selama beberapa hari ke belakang, harga batu bara ini perlahan naik sedikit demi sedikit berkat gap pada pembukaan. Indikator momentum seperti Relative Strength Index (RSI) 14-hari jelas menunjukkan momentumnya bullish karena berada di 61,06 meskipun tampak datar. Itu semua ditopang oleh Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang merayap naik di bawah harga yang mengindikasikan tren jangka lebih panjang adalah naik yang telah ditembus pada pertengahan Januari 2026.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi salah satu barometer untuk mengukur sentimen di Timur Tengah sempat bangkit ke $91,27 per barel sebelumnya hari ini di balik perkembangan baru konflik AS-Iran.

Pasukan Amerika Serikat pada Rabu lalu melakukan serangan di Iran untuk menargetkan situs militer yang berpotensi mengancam pasukan AS dan lalu lintas untuk tujuan komersial di Selat Hormuz, seperti diinformasikan Reuters. Sebagai tanggapan, Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran menargetkan pangkalan udara AS, yang dikutip Reuters dari Tasnim News Agency. IRGC mengeluarkan peringkatan bahwa serangan lanjutan dari AS bisa memicu respons yang lebih tegas.

Kejadian di atas menjauhkan prospek pembukaan kembali Selat Hormuz yang semakin memperpanjang gangguan pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah, sebuah situasi yang dapat mengangkat permintaan batu bara sebagai pengganti gas untuk pembangkit listrik. Namun, sejarah menunjukkan keadaan di Timur Tengah dapat berbalik dengan cepat sehingga perlu pemantauan informasi terbaru lebih lanjut.

Terkait energi di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua Mei 2026 dalam Kepmen ESDM No. 204.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $116,32 naik dari $106,57
  • Batubara I (5.300 GAR) $80,34 naik dari $79,56
  • Batubara II (4.100 GAR) $57,61 naik dari $55,66
  • Batubara III (3.400 GAR) $39,35 naik dari $38,76

Pasar Indonesia masih tutup untuk hari kedua Idul Adha dan akan kembali buka pada hari Jumat besok sehingga tidak ada kabar spesifik terkait batu bara untuk saat ini. Namun demikian, kita semakin dekat dengan penerapan kebijakan pemerintah soal ekspor komoditas-komoditas strategis hanya melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) PT Danantara Sumberdaya Indonesia pada 1 Juni 2026. Batu bara menjadi salah satu dari tiga komoditas pertama yang menjadi objek kebijakan ini selain minyak mentah kelapa sawit dan paduan besi. Komoditas-komoditas lainnya yang akan tercakup dalam kebijakan ini akan diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Batu Bara ICE Newcastle
Grafik harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Sentimen Risiko

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.

Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.

Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.

Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.

Euro: Harga minyak yang lebih tinggi membebani sebelum pemulihan akhir 2026 – ABN AMRO

Para analis ABN AMRO mencatat bahwa pasangan mata uang EUR/USD telah bergejolak dalam kisaran tertentu, didorong oleh perubahan ekspektasi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz
Devamını oku Previous

Minyak WTI Pullback Kembali di Bawah $90 meskipun Ketegangan di Iran Meningkat

Harga minyak mentah naik pada hari Kamis, saat Iran dan AS saling bertukar serangan, tetapi upaya kenaikan sejauh ini tetap terbatas
Devamını oku Next