CPO: Harga Minyak Sawit Sudah Merosot Lebih dari 3% Pekan Ini, Kontrak Juli ke 4.387 Ringgit

  • Harga CPO kontrak Juni 2026 turun 1,18% ke 4.357 ringgit per ton, sementara kontrak Juli melemah 1,15% ke 4.387 ringgit per ton.
  • Tekanan utama datang dari pelemahan permintaan India dan Tiongkok, dengan India mulai mengalihkan pembelian ke soybean oil dan sunflower oil.
  • Meski tren jangka pendek masih tertekan, prospek menengah belum sepenuhnya bearish karena dukungan mandat biodiesel, risiko cuaca, dan ketidakpastian geopolitik.

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis. Mengacu data Barchart, kontrak Juni 2026 turun 52 ringgit atau 1,18% ke 4.357 ringgit per ton, setelah bergerak dalam rentang 4.354-4.422 ringgit.

Kontrak Juli 2026, yang lebih aktif diperdagangkan, ikut melemah 51 ringgit atau 1,15% ke 4.387 ringgit per ton mendekati terendah 10 Maret di 4.349. Sepanjang perdagangan, kontrak ini bergerak dalam rentang 4.382-4.456 ringgit per ton. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih menilai ruang pemulihan harga terbatas, terutama saat sinyal permintaan ekspor belum cukup kuat.

Permintaan India dan Tiongkok Jadi Sorotan

Tekanan harga terutama datang dari kekhawatiran terhadap lemahnya permintaan India dan Tiongkok, dua pasar utama minyak nabati global. Pembeli India dilaporkan mulai beralih ke soybean oil dari Argentina, sementara Tiongkok lebih banyak menunda pembelian jangka pendek dan mulai melirik kontrak forward, terutama untuk pengiriman Desember.

Impor sawit India menjadi salah satu katalis negatif terbesar. Mengutip data SEA yang dilaporkan Reuters, impor minyak sawit India pada April merosot 26% menjadi 513.403 ton, terendah sejak Desember 2025. Sebaliknya, impor soyoil naik 25% ke 360.350 ton, sementara sunflower oil melonjak sekitar 121% ke 434.240 ton. Pergeseran ini menunjukkan daya saing CPO sedang diuji oleh minyak nabati alternatif, terutama saat harga minyak sawit belum cukup menarik bagi refiners India.

Ekspor Indonesia Melemah pada Maret

Data terbaru BPS yang dirilis awal Mei juga memberi konteks tambahan terhadap tekanan pasar. Ekspor CPO dan turunannya pada Maret 2026 tercatat sebesar US$1,42 miliar dengan volume 1,31 juta ton, turun 35,08% secara tahunan.

Namun, pelemahan Maret belum sepenuhnya menghapus kinerja kuat pada awal tahun. Secara akumulatif, ekspor CPO dan turunannya sepanjang Januari-Maret 2026 masih tumbuh 3,56% menjadi US$6,11 miliar. Artinya, tekanan ekspor mulai terlihat lebih tajam pada akhir kuartal pertama, tetapi belum cukup untuk membalikkan capaian positif secara kuartalan.

Stok Malaysia Naik, Ekspor Turun

Selain itu, data fundamental Malaysia yang dirilis pekan ini juga belum banyak memberi ruang bagi pemulihan harga jangka pendek. MPOB mencatat stok sawit Malaysia pada April naik 1,71% menjadi 2,30 juta ton, sementara produksi CPO melonjak 18,37% ke 1,63 juta ton.

Di saat yang sama, ekspor palm oil Malaysia turun 14,34% menjadi 1,30 juta ton. Kombinasi produksi yang meningkat, stok yang bertambah, dan ekspor yang melemah membuat pasar membaca neraca pasokan-permintaan dalam posisi kurang menguntungkan bagi harga.

Prospek Menengah Belum Sepenuhnya Bearish

Meski tekanan jangka pendek masih dominan, prospek menengah CPO belum sepenuhnya bearish. Beberapa broker masih melihat harga berpeluang bertahan di level relatif tinggi karena dukungan mandat biodiesel, risiko El Nino, ketidakpastian geopolitik, serta kenaikan harga pupuk.

Apex Research memprakirakan harga rata-rata CPO berada di kisaran RM4.300-RM4.400 per ton tahun ini dan RM4.500 per ton tahun depan. Selain itu, mandat B50 Indonesia diprakirakan dapat menambah kebutuhan feedstock CPO sekitar 3,08 juta ton.

Dengan latar tersebut, arah CPO dalam waktu dekat kemungkinan masih ditentukan oleh keseimbangan antara lemahnya permintaan ekspor dan potensi dukungan dari kebijakan biodiesel. Selama permintaan India dan Tiongkok belum pulih, pasar cenderung tetap berhati-hati, meski ekspektasi jangka menengah belum sepenuhnya kehilangan pijakan.

Kazaks: ECB akan terus memutuskan pertemuan demi pertemuan, berdasarkan data yang masuk

Anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) Martins Kazaks mengatakan dalam sebuah presentasi selama sebuah acara pada hari Kamis, bank sentral akan terus memutuskan pertemuan demi pertemuan dan berdasarkan data yang masuk
अधिक पढ़ें Previous