USD/IDR: Rupiah Tertekan ke Rp17.493 Jelang Libur Panjang, Pasar Menanti Data PPI AS
- Rupiah melemah 0,10% ke Rp17.493 per Dolar AS, setelah sempat menyentuh Rp17.558 yang menandai area terlemah sepanjang masa.
- BI dan pemerintah memperkuat respons stabilisasi, mulai dari intervensi valas hingga rencana BSF dan potensi buyback SBN.
- Tekanan eksternal masih datang dari perang AS-Iran, harga minyak tinggi, serta data inflasi AS yang menjaga ekspektasi The Fed tetap hati-hati.
Kurs Rupiah kembali melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu, menjelang libur panjang yang dimulai Kamis. Berdasarkan data real-time pukul 12.13 WIB, Rupiah melemah 17,1 poin atau 0,10% ke Rp17.493 per Dolar AS, setelah bergerak dalam rentang harian Rp17.483-Rp17.558.
Tekanan juga terlihat pada kurs transaksi Bank Indonesia. Pada Rabu, kurs jual USD berada di Rp17.601,57, sementara kurs beli tercatat di Rp17.426,43 per Dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan Rupiah masih bertahan dekat area terlemahnya. Posisi Rp17.558 menjadi level penting karena menandai area terlemah Rupiah sepanjang masa terhadap Dolar AS. Dengan USD/IDR masih berada dekat zona itu, ruang pemulihan Rupiah belum terlihat kuat, sementara pasar cenderung merapikan eksposur menjelang jeda perdagangan.
Libur Panjang Berpotensi Menipiskan Likuiditas
Dari sisi kalender domestik, Kamis, 14 Mei 2026 merupakan libur nasional Kenaikan Yesus Kristus, sementara Jumat, 15 Mei 2026 tercatat sebagai cuti bersama. Artinya, pasar domestik akan memasuki jeda panjang hingga akhir pekan.
Kondisi ini berpotensi membuat likuiditas menipis, terutama ketika tekanan eksternal masih tinggi. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya lebih berhati-hati dalam mengambil posisi baru sebelum perdagangan kembali normal.
BI dan Pemerintah Perkuat Respons Stabilisasi
Tekanan terhadap Rupiah mulai mendorong respons kebijakan lintas sektor. Bank Indonesia memperkuat intervensi di pasar valas, sementara pemerintah menyiapkan stabilisasi melalui pasar obligasi, termasuk Bond Stabilization Fund (BSF) dan potensi buyback SBN di pasar sekunder untuk menahan lonjakan yield serta meredam risiko arus keluar modal asing.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai APBN masih relatif aman meski Rupiah sudah berada di atas asumsi APBN 2026, karena simulasi fiskal pemerintah menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi. Namun, pelemahan kurs tetap menjadi perhatian karena dapat menambah beban subsidi energi dan memperbesar risiko defisit jika harga minyak bertahan tinggi.
Pemerintah juga mencoba menjaga momentum pertumbuhan. Purbaya memprakirakan ekonomi kuartal III dan IV 2026 bisa tumbuh di atas 5,5% dan diarahkan mendekati 6%, didukung stimulus kendaraan listrik untuk 100 ribu mobil listrik dan 100 ribu motor listrik, dengan subsidi motor listrik Rp5 juta per unit serta PPN DTP 40-100% untuk mobil listrik.
Perang AS-Iran dan Hormuz Menjaga Tekanan Energi
Sentimen eksternal masih dibayangi perang AS-Iran dan rapuhnya gencatan senjata sementara, di tengah perhatian pasar terhadap rencana pertemuan Trump-Xi di Tiongkok. Meski minyak terkoreksi dari rally tiga hari, kontrak berjangka Brent masih bertahan di US$106,28 per barel dan WTI di US$100,67, sehingga tekanan energi tetap tinggi bagi negara importir seperti Indonesia.
Risiko pasokan energi juga tetap tinggi. EIA mengasumsikan Selat Hormuz efektif tertutup hingga akhir Mei, dengan kehilangan pasokan minyak Timur Tengah diprakirakan mencapai puncak 10,8 juta barel per hari pada Mei. Kondisi ini menjaga minyak di sekitar US$100 per barel dan menambah tekanan bagi Rupiah melalui biaya impor energi, inflasi, subsidi, serta persepsi risiko fiskal.
Pasar Tunggu PPI AS setelah Inflasi Inti Masih Panas
Dari AS, IHK/CPI April naik 0,6% MoM, sesuai konsensus, sementara inflasi tahunan meningkat 3,8% YoY, di atas konsensus 3,7% dan lebih tinggi dari 3,3% sebelumnya. Tekanan inti juga lebih panas, dengan IHK Inti/Core CPI naik 0,4% MoM dan 2,8% YoY, melampaui konsensus 0,3% dan 2,7%. Data ini memperkuat pandangan bahwa The Fed masih perlu berhati-hati, sehingga ruang pemulihan Rupiah tetap terbatas.
Fokus pasar malam ini bergeser ke IHP/PPI AS April. Konsensus memprakirakan PPI bulanan naik 0,5%, sementara IHP tahunan meningkat ke 4,9% dari 4,0%. PPI inti diproyeksikan naik 0,3% MoM dari 0,1%, dan 4,3% YoY dari 3,8%. Jika PPI kembali melampaui ekspektasi, Dolar AS berpotensi tetap kuat dan tekanan terhadap Rupiah bisa berlanjut.
Indikator Ekonomi
Indeks Harga Produsen (Thn/Thn)
Indeks Harga Produsen dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja mengukur rata-rata perubahan harga di pasar utama AS oleh produsen komoditas di semua negara bagian untuk pengolahan. Perubahan IHP secara luas diikuti sebagai indikator inflasi komoditas. Secara umum, pembacaan tinggi dipandang sebagai positif (atau bullish) untuk USD, sedangkan bacaan yang rendah dipandang sebagai negatif (atau bearish).
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Mei 13, 2026 12.30
Frekuensi: Bulanan
Konsensus: 4.9%
Sebelumnya: 4%
Sumber: US Bureau of Labor Statistics