Dolar AS Kesulitan Menemukan Permintaan Jelang Babak Pembicaraan Batas Utang Selanjutnya

  • Dolar AS tetap tertekan untuk hari kedua berturut-turut pada hari Selasa.
  • Indeks Dolar AS berhasil bertahan di atas 102,00 setelah turun pada hari Senin.
  • Data Penjualan Ritel AS dan berita seputar pembicaraan plafon utang dapat berdampak pada valuasi USD.

Dolar AS (USD) kesulitan menemukan permintaan di awal pekan saat investor menilai rilis data ekonomi makro terbaru dari Amerika Serikat (AS) dan komentar dari para pejabat Federal Reserve (The Fed). Indeks Dolar AS, yang melacak kinerja USD melawan sekeranjang enam mata uang utama, mencatat penurunan kecil pada hari Senin dan melanjutkan penurunannya di bawah 102,50 Selasa pagi.

Biro Sensus AS akan merilis data Penjualan Ritel untuk bulan April di awal sesi Amerika pada hari Selasa dan Federal Reserve akan menerbitkan laporan Produksi Industri. Lebih penting lagi, Presiden AS Joe Biden akan bertemu dengan Ketua DPR dari Partai Republik Kevin McCarthy dan tiga pemimpin kongres lainnya pada pukul 19:00 GMT (Rabu, 02:00 WIB) untuk babak negosiasi batas utang berikutnya.

Penggerak Pasar Harian: Dolar AS Kehilangan Ketinggian Setelah Rally Minggu Sebelumnya

  • Data dari AS menunjukkan pada hari Senin bahwa Indeks Kondisi Bisnis Umum dari Federal Reserve Bank dalam survei Manufaktur Empire State New York merosot ke -31,8 di bulan Mei dari 1,8 di bulan April.
  • Dalam sebuah wawancara dengan CNBC pada hari Senin, Presiden Bank Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee mengatakan bahwa mereka perlu memantau lebih dari kumpulan data normal dan menyesuaikan dengan kondisi kredit saat membuat keputusan kebijakan.
  • Presiden Federal Reserve Bank Minneapolis Neel Kashkari menegaskan kembali bahwa inflasi "terlalu tinggi" dan mereka masih harus menempuh jalan panjang sebelum mencapai tujuan inflasi.
  • Presiden Federal Reserve Atlanta Raphael Bostic mengatakan kepada Bloomberg pada hari Senin bahwa, jika dia memberikan suara sekarang, dia akan memilih untuk mempertahankan suku bunga pada bulan Juni. Namun, dia memperingatkan bahwa dia harus mempertahankan kemungkinan kenaikan suku bunga.
  • Ketua DPR AS Kevin McCarthy mengatakan kepada wartawan bahwa para negosiator Kongres dan Gedung Putih masih berjauhan dalam pembicaraan untuk menaikkan plafon utang guna menghindari gagal bayar.
  • Penjualan Ritel di AS diprakirakan naik 0,7% di bulan April menyusul penurunan 0,6% yang tercatat di bulan Maret. Produksi Industri diprakirakan tetap tidak berubah pada basis bulanan.
  • "Jika Kongres gagal menaikkan batas utang, itu akan menyebabkan kesulitan besar bagi para keluarga Amerika, membahayakan posisi kepemimpinan global kita, dan menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan kita untuk mempertahankan kepentingan keamanan nasional kita," Menteri Keuangan AS Yellen memperingatkan.
  • Menyusul rally dua hari, imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10-tahun tetap berada di wilayah negatif di bawah 3,5%.
  • Indeks utama Wall Street mencatat kenaikan kecil pada hari Senin. Selasa pagi, indeks saham berjangka AS diperdagangkan hampir tidak berubah pada hari ini.

Analisis Teknis Indeks Dolar AS: Momentum Bullish Memudar

Indeks Dolar AS (DXY) ditutup sedikit di bawah Simple Moving Average (SMA) 50-hari pada hari Senin, saat ini berada di sekitar 102,50, dan tetap di bawah level tersebut pada hari Selasa. Selanjutnya, indikator Relative Strength Index (RSI) pada grafik harian mundur ke area 50, mencerminkan hilangnya momentum bullish.

Untuk sisi bawah, 102,00 (level psikologis, level statis) sebagai support teknis pertama di depan 101,75 (SMA 20-hari). Penutupan harian di bawahnya bisa membuka kemungkinan kelanjutan penurunan menuju 101,00 (level psikologis, level statis).

Jika DXY berhasil stabil di atas 102,50, DXY kemungkinan akan menghadapi resistance kuat di 103,00 (level psikologis, SMA 100-hari) sebelum menargetkan 103,60 (level statis dari Februari).

Bagaimana Kebijakan The Fed Memengaruhi Dolar AS?

Federal Reserve AS (The Fed) memiliki dua mandat: lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga. The Fed menggunakan suku bunga sebagai alat utama untuk mencapai tujuannya tetapi harus menemukan keseimbangan yang tepat. Jika The Fed mengkhawatirkan inflasi, ia memperketat kebijakannya dengan menaikkan suku bunga untuk meningkatkan biaya pinjaman dan mendorong tabungan. Dalam skenario itu, Dolar AS (USD) kemungkinan besar akan menguat nilainya karena berkurangnya jumlah uang beredar. Di sisi lain, The Fed dapat memutuskan untuk melonggarkan kebijakannya melalui penurunan suku bunga jika khawatir terhadap meningkatnya tingkat pengangguran akibat perlambatan aktivitas ekonomi. Suku bunga yang lebih rendah cenderung mengarah ke pertumbuhan investasi dan memungkinkan perusahaan-perusahaan mempekerjakan lebih banyak orang. Dalam skenario ini, USD diprakirakan akan kehilangan nilainya.

The Fed juga menggunakan pengetatan kuantitatif/quantitative tightening (QT) atau pelonggaran kuantitatif/quantitative easing (QE) untuk menyesuaikan besaran neraca dan mengarahkan ekonomi ke arah yang diinginkan. QE mengacu pada pembelian aset oleh The Fed, seperti obligasi pemerintah, di pasar terbuka untuk memacu pertumbuhan dan QT justru sebaliknya. QE secara luas dilihat sebagai tindakan kebijakan bank sentral yang negatif untuk USD dan sebaliknya.

Risiko Positif untuk USD dan JPY Cukup Signifikan Jika Tidak Ada Kemajuan Menuju Kesepatakan Batas Utang – ING

Presiden Biden dan Ketua DPR McCarthy diprakirakan akan mengadakan babak lain dari negosiasi plafon utang utama hari ini. Mengingat risiko tinggi bahw
了解更多 Previous

SEK Memiliki Peluang Bagus untuk Menguat terhadap EEUR Sepanjang Tahun Ini – Commerzbank

Antje Praefcke, Analis FX di Commerzbank, memperkirakan Krona Swedia akan menguat terhadap Euro di akhir tahun ini. EUR/SEK Seharusnya Mencapai Punca
了解更多 Next