Berita Harga USD/INR: Rupee India Pulih ke 81,50 karena Kekhawatiran yang Disebabkan Tiongkok Mereda

  • USD/INR bertahan lebih rendah di dekat dasar dalam perdagangan harian di tengah pasar yang sedikit positif.
  • Penurunan angka Covid di Tiongkok dan optimisme pasar properti membebani Dolar AS.
  • S&P memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi India tetapi Morgan Stanley tetap bullish.
  • Harga minyak yang lebih kuat dan pidato The Fed yang hawkish menarik para penjual pasangan mata uang ini menjelang PDB India Kuartal 3 dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell.

USD/INR tetap tertekan di sekitar level terendah dalam perdagangan harian 81,48, mengambil tawaran beli ke 81,60 pada saat berita ini ditulis, karena sentimen pasar membaik selama awal hari Selasa. Meski begitu, berbagai tajuk utama yang beragam seputar New Delhi dan harga minyak yang lebih tinggi menantang para penjual pasangan mata uang tersebut akhir-akhir ini.

Setelah menyaksikan awal yang suram untuk pekan yang penting ini, penurunan jumlah penularan harian Covid di Tiongkok dari level tertinggi sepanjang masa di 40.347, menjadi 38.645, tampaknya telah memicu optimisme yang hati-hati. Pada baris yang sama bisa jadi adalah rally dalam saham realitas Tiongkok karena regulator sekuritas nasional mencabut larangan pembiayaan kembali ekuitas untuk perusahaan properti yang terdaftar, menurut Reuters. "Komisi Regulasi Sekuritas Tiongkok (China Securities Regulatory Commission/CSRC) mengatakan pada hari Senin malam bahwa pihaknya akan memperluas saluran pembiayaan ekuitas, termasuk penempatan saham pribadi untuk Tiongkok dan pengembang Tiongkok yang terdaftar di Hong Kong, mencabut larangan yang telah diberlakukan selama bertahun-tahun," demikian disebutkan dalam berita tersebut.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat global S&P memangkas prakiraan pertumbuhan ekonomi India menjadi 7,0% untuk Tahun Fiskal (Fiscal Year/FY) saat ini, dari 7,3% yang diprakirakan pada bulan September. S&P juga menyatakan bahwa ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik tidak akan terlalu terpengaruh oleh perlambatan global.

Sebaliknya, para analis di Morgan Stanley memprakirakan indeks saham Sensex India dapat mencapai 80.000 pada akhir tahun depan jika negara ini dimasukkan dalam indeks obligasi global dan harga komoditas seperti minyak dan pupuk turun tajam. "Pialang juga melihat peluang 50% Sensex mencapai 68.500 pada akhir tahun depan, dengan asumsi bahwa efek konflik Ukraina-Rusia tidak merembet ke tahun 2023, pertumbuhan domestik terus berlanjut ke jalur yang kuat dan Amerika Serikat tidak tergelincir ke dalam resesi yang berlarut-larut," sebut Reuters.

Perlu dicatat bahwa pembelaan para pengambil kebijakan The Fed terhadap langkah-langkah agresif dan minyak mentah WTI yang lebih kuat, naik sebesar 1,80% dalam perdagangan harian mendekati $78,25 pada saat berita ini ditulis, juga tampaknya menantang para penjual USD/INR akhir-akhir ini.

Ke depan, Keyakinan Konsumen Dewan Konfederasi (CB) AS untuk bulan November dapat menghibur para pedagang USD/INR menjelang hari Rabu yang penting ketika Produk Domestik Bruto (PDB) India kuartal ketiga (Q3) dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell akan sangat penting untuk diperhatikan.

Analisis Teknis

Perdagangan berkelanjutan di bawah DMA-50, di sekitar 81,90 pada saat berita ini ditulis, membuat para penjual USD/INR tetap optimis.

 

Pemulihan GBP/USD Sentuh 1,2000 dengan Fokus Tertuju pada Bailey BOE, Perbincangan The Fed

GBP/USD di dukung oleh penjualan Dolar AS berbasis luas di tengah sentimen yang lebih kuat sambil menyentuh kembali puncak harian ke 1,2000 pada Selas
अधिक पढ़ें Previous

Prakiraan Harga Emas: XAU/USD Pulih dengan Kuat karena Marsekal Tiongkok Batasi Kerusuhan, PDB AS dalam Fokus

Harga emas (XAU/USD) telah melanjutkan pemulihannya di atas rintangan terdekat $1.750,00 di sesi Asia. Aksi beli responsif di sekitar support penting
अधिक पढ़ें Next